EKOLOGI INDUSTRI_Ghania Nabila Rachmat_41624010021
Rabu, 07 Januari 2026
Identifikasi Potensi Simbiosis di Lingkungan Sekitar
1. Lokasi Pengamatan
Nama Tempat: Kantin Pusat Mahasiswa.
Situasi Lingkungan: Terdapat 9 tenant aktif (6 gerai makanan berat/gorengan dan 3 gerai minuman/kopi) yang beroperasi dari pagi hingga sore hari.
2. Inventarisasi Limbah (Resource Mapping)
| Jenis Limbah | Sumber (Penghasil) | Perkiraan Volume (Harian) | Kondisi Saat Ini |
| Ampas Kopi | 3 Gerai Kopi | 4 – 6 kg | Dibuang ke tempat sampah umum, memicu bau asam. |
| Minyak Jelantah | 6 Tenant Makanan | 4 – 7 Liter | Ditampung sementara, berisiko tumpah ke drainase. |
| Air Buangan AC | Unit AC Gedung Kantin | 15 – 20 Liter | Dibuang begitu saja ke selokan luar. |
3. Perancangan Simbiosis Sederhana
Masalah utama dari 9 tenant ini adalah akumulasi limbah cair (minyak) dan organik (ampas kopi) yang jika digabungkan memiliki volume cukup besar untuk diolah kembali.
Diagram Alur Simbiosis:
Ampas Kopi (dari 3 tenant) $\rightarrow$ Komunitas Kebun Kampus: Digunakan sebagai pengusir hama alami atau campuran kompos high-nitrogen untuk taman kampus.
Minyak Jelantah (dari 6 tenant) $\rightarrow$ Laboratorium Kimia/UKM: Dikumpulkan sebagai bahan baku pembuatan biodiesel skala laboratorium atau sabun pembersih lantai kantin.
Air Buangan AC $\rightarrow$ Wadah Penampungan: Digunakan oleh petugas kebersihan untuk mengepel lantai kantin di sore hari, menghemat penggunaan air bersih.
4. Manfaat Simbiosis
Lingkungan: Mengurangi beban cemaran minyak pada saluran pembuangan kantin hingga 70% dan meminimalisir sampah organik yang membusuk di tempat sampah.
Ekonomi: Mengurangi pengeluaran rutin kantin untuk pembelian air pembersih dan pupuk tanaman, serta memberikan bahan baku gratis bagi penelitian mahasiswa di laboratorium.
5. Kesimpulan
Dengan total 9 tenant, konsentrasi limbah yang dihasilkan cukup stabil untuk memasok kebutuhan bahan baku bagi unit penerima (Kebun Kampus & Laboratorium). Melalui simbiosis ini, kantin tidak lagi hanya menjadi pusat konsumsi, tetapi juga menjadi pemasok sumber daya bagi kegiatan hijau di lingkungan universitas.
Audit Energi Mandiri pada Fasilitas Produksi Sederhana
1. Deskripsi Fasilitas
Nama Tempat: Warung Makan Berkah
Jenis Produksi: Pengolahan makanan jadi (nasi, lauk-pauk, dan minuman dingin).
Aktivitas Utama: Memasak, pengawetan suhu dingin, dan pemanasan makanan secara kontinu.
2. Tabel Inventarisasi Energi (Per Minggu)
Pengamatan dilakukan selama 7 hari operasional.
| No. | Nama Alat | Daya (Watt) | Durasi Pakai (Jam/Hari) | Konsumsi Energi (kWh/Minggu) | Keterangan |
| 1 | Rice Cooker Besar (Mode Cook) | 1.000 | 2 | 14,0 | Memasak nasi 2x sehari. |
| 2 | Rice Cooker Besar (Mode Warm) | 80 | 12 | 6,7 | Menjaga nasi tetap hangat. |
| 3 | Kulkas 2 Pintu | 150 | 24 | 25,2 | Penyimpanan bahan baku. |
| 4 | Kipas Angin Dinding (2 unit) | 120 | 10 | 8,4 | Kenyamanan pelanggan. |
| 5 | Lampu LED (4 unit) | 40 | 12 | 3,4 | Pencahayaan area makan. |
| 6 | Blender Juice | 300 | 1 | 2,1 | Pembuatan minuman. |
| Total | 59,8 kWh |
3. Analisis Temuan
A. Titik Kritis Energi (Energy Hotspot)
Berdasarkan data di atas, Kulkas 2 Pintu adalah pengonsumsi energi tertinggi, mencapai 42% dari total penggunaan listrik mingguan.
B. Logika Analisis
Mengapa Tertinggi? Meskipun dayanya relatif kecil (150Watt) dibandingkan Rice Cooker, kulkas menjadi pengonsumsi tertinggi karena faktor durasi penggunaan. Kulkas bekerja 24 jam nonstop selama 7 hari seminggu.
Daya vs Energi: Ini membuktikan bahwa alat dengan daya rendah namun beroperasi kontinu seringkali lebih boros energi daripada alat daya tinggi yang hanya menyala sebentar.
Emisi: Alat ini menghasilkan emisi panas secara langsung melalui kompresor di bagian belakang/bawah unit, yang jika diletakkan di ruangan sempit akan meningkatkan suhu ruangan dan membuat kulkas bekerja lebih keras lagi.
4. Usulan Perbaikan
Ide Konkret: Optimasi Termal Kulkas
Untuk mengurangi konsumsi energi pada kulkas tanpa menurunkan kualitas penyimpanan bahan makanan:
Pengaturan Jarak: Memberikan jarak minimal 15 cm antara dinding dengan bagian belakang kulkas agar sirkulasi panas kompresor lancar. Hal ini dapat meningkatkan efisiensi energi hingga 10%.
Manajemen Isi: Memastikan pintu kulkas tidak terlalu sering dibuka-tutup dan tidak memasukkan makanan yang masih panas ke dalam kulkas.
Penggunaan "Rice Box" Isolasi: Untuk Rice Cooker, beralih ke termos nasi isolasi tinggi (tanpa listrik) setelah nasi matang, sehingga mode warm (6,7kWh/minggu) dapat dieliminasi sepenuhnya.
5. Kesimpulan
Audit sederhana ini menunjukkan bahwa efisiensi energi di skala mikro tidak selalu tentang mengganti alat mahal, tetapi tentang manajemen durasi pakai dan penempatan alat yang tepat.
-
A. IDENTIFIKASI SUMBER Judul: Circular economy strategies for electric vehicle batteries reduce reliance on raw materials Penulis: Gavi...
-
Kelompok 6 - Mahasiswa Teknik Industri Tujuan Analisis: Menganalisis dampak lingkungan singapura berdasarkan model IPAT (I = P x A x T) dan...
-
Identifikasi Elemen Teknologi dan Dampak Lingkungan dalam Industri Percetakan PENDAHULUAN CV. Ghania Mandiri merupakan perusahaan per...
